Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Myspace button
Delicious button

MAKIN BANYAK KAPAL KE GAZA, UTUSAN UE TIBA

The-Shayetet---IDF-Navy-Flotilla-13

Kembali sebuah kapal kargo mencoba mematahkan blokade Israel ke Gaza. Minggu lalu IDF (Pasukan Pertahanan Israel) melacak kapal-kapal yg menuju Jalur Gaza, yang kali ini datang dari Iran.   

Operasi IDF kali ini berhasil menghalau kapal-kapal Iran itu, tanpa perlu menurunkan Armada 13 yang dikenal sebagai ‘Shayetet’. Armada inilah yang pada Mei lalu melakukan penyergapan kapal Turki ‘Mavi Marmara’ yang membuat dunia mengutuki Israel.

-

Minggu ini Israel kembali direpotkan dengan kapal lain yang dijadwalkan untuk bergabung pada awal minggu depan. IDF mengkhawatirkan kemungkinan bahwa sejumlah kapal akan berlayar dari Libanon, bahkan mungkin dengan operator Hizbullah di atas kapal itu.

“Tidak ada banyak waktu untuk menghentikan kapal cepat yang berasal dari Libanon,” jelas seorang perwira IDF, “Secara praktis, itu berarti bahwa Angkatan Laut harus waspada tinggi di tiap jam.”

Dalam sebuah surat kepada kepala PBB Ban Ki Moon, Duta Besar Israel untuk PBB Gabriela Shalev mengatakan negaranya “memiliki hak di bawah hukum internasional untuk mencegah kapal ini, (diidentifikasi sebagai kapal ‘Junia’ dan ‘Julia’), dari mengakses daerah kantong Palestina yang dikuasai Hamas.”

“Tujuan dari kapal ini adalah untuk melanggar blokade laut yang ada di Gaza,” tulisnya. “Ini tidak dapat dikesampingkan bahwa kapal membawa senjata atau individu dengan niat provokatif dan konfrontatif.”

-

Di Teheran Jumat kemarin (23/7) Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengungkapkan rencana oleh Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang dua sekutu Iran di Timur Tengah.

Ahmadinejad---US-plan-to-attack-Syria-Lebanon

“Mereka (Musuh Iran) telah memutuskan untuk menyerang dua negara-negara Arab di regional, yang adalah sekutu kami, dengan bantuan rezim Zionis untuk menciptakan ketakutan dalam pengambilan keputusan di Iran,” kata Ahmadinejad seperti dikutip kantor berita Iran: IRNA pada Jumat malam.

Presiden Iran tidak menyebut nama kedua negara, Namun, analis politik percaya Suriah dan Libanon yang dimaksud.

- UTUSAN UE TIBA

Catherine-Ashton-looks-at-collected-rockets

Sementara itu diplomat Uni Eropa Catherine Ashton telah tiba di Jalur Gaza pada hari Minggu (18 / 7). Ashton mengatakan Uni Eropa bersedia mengirim monitor untuk membantu mengoperasikan penyeberangan, tetapi mereka harus memiliki peran yang jelas dan bekerja sama dengan Otoritas Palestina yang didukung-Barat, yang diusir Hamas dari Gaza pada 2007.

Menteri Luar Negeri Israel Lieberman mengatakan ia telah menjelaskan kepada Ashton soal “pendekatan baru Israel yang liberal ke Gaza” dan menyerukan kepada Uni Eropa untuk mendukung beberapa proyek infrastruktur besar-besaran di sana.

Setelah ke Gaza ia berangkat menuju ke kota Israel terdekat: Sderot, yang hampir sehari-hari menderita serangan roket Palestina di tahun-tahun menjelang “perang 22 hari Gaza” diluncurkan pada bulan Desember 2008.

Ashton dijadwalkan untuk bertemu dengan Perdana Menteri Netanyahu hari Minggu besok (24/7).

sumber: Jpost.com Presstv.ir YahooNews

read related posting: http://houseofrevelation.com/?p=435

PROVOKASI LIBYA GAGAL, EROPA AKAN KE GAZA

Palestinian-hold-Kadhafy-poster

Belum selesai kasus Kapal ‘Marvi Marmara’, Sabtu 10 Juli 2010 lalu sebuah kapal bernama ‘Amalthea’ bertolak dari pelabuhan Lavrio (Yunani) kembali menuju perairan Gaza yang diblokade Israel. Kapal yang kabarnya membawa 2000 ton bahan makanan dan perlengkapan medis itu disewa yayasan amal milik putra Moamar Khadafy pemimpin Libya, bermaksud menembus blokade Israel ke Gaza City. Maka kawasanpun kembali menjadi tegang, berbagai pihak mengkhawatirkan bila insiden kembali terjadi, situasi akan lebih buruk dibanding kasus ‘Marvi Marmara’.

Berbagai komentar kembali bermunculan. Tony Blair, wakil Kuartet diplomatik Timur Tengah, mendesak “semua pihak untuk bertindak dengan menahan diri.”

“Yang paling penting adalah untuk menghindari konfrontasi, jalur yang ditetapkan untuk memberikan bantuan ke Gaza harus digunakan sesuai dengan kebijakan baru kita sedang kerjakan” kata mantan perdana menteri Inggris itu.

Sementara itu Israel walaupun telah melonggarkan jalur darat tetap bersikeras dengan blokade ke pantai Gaza. Youssef Sawan, Direktur Eksekutif Yayasan Kadhafi, menuturkan kepada koresponden AFP: delapan kapal perang Israel menghadang kapal mereka sehingga tidak dapat menuju ke pantai Gaza City.

Kali ini Israel bertindak lebih cermat terhadap kapal yang berbendera Moldova itu. Israel dikatakan telah melakukan upaya diplomatik yang intensif dengan Moldova dan Yunani, menanggapi aksi Libya ini. Koran Haaretz melaporkan di situsnya bahwa, Gabriela Shalev, Utusan Israel untuk PBB, mengirim surat kepada SekJen PBB Ban Ki moon – meminta masyarakat internasional campur tangan untuk mencegah kapal tersebut mendekati Gaza.

Dari Yerusalem, AFP melaporkan bahwa, “Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman berbicara beberapa kali dalam beberapa hari ini dengan para menteri luar negeri Yunani dan Moldova, dan mencapai pemahaman dengan mereka berhubungan dengan kapal Libya itu,” mengutip pernyataan kementerian luar negri.

Agen kapal dan kementerian luar negeri Yunani berkata bahwa kapal tersebut disewa dan telah berangkat ke pelabuhan Mesir El-Arish. “Semua dalam dokumen kapal menunjukkan pelabuhan Mesir El-Arish sebagai tujuan” kata Petros Arvanitis, agen kapal kargo Amalthea.

Jurubicara kementerian luar negeri Yunani, Grigoris Delavekouras mengatakan pihaknya telah mendapat “jaminan yang diterima dari Duta Besar Libya bahwa kapal akan menuju El-Arish.”

Tapi Kadhafi Foundation yang mengorganisir pengiriman kemudian mengatakan bahwa tujuan kapal adalah Gaza. “Kapal ini menuju ke Gaza seperti yang direncanakan,” kata Youssef Sawan, kepada AFP melalui telepon dari Tripoli. “Ini adalah misi murni manusiawi, ini bukan provokatif dan tidak bermusuhan,” tambahnya.

Sebelumnya, seorang anggota parlemen Arab-Israel juga mengatakan kepada AFP bahwa kapal yang juga membawa penumpang – enam orang Libya, seorang Maroko, seorang Nigeria dan Aljazair itu – dimaksudkan untuk menuju ke Gaza dalam upaya untuk menentang blokade daerah kantong miskin Palestina.

“Kapal sedang menuju ke Gaza sesuai rencana,” ujar Ahmed Tibi, yang berhubungan dengan yayasan amal yang dipimpin oleh Saif al-Islam Kadhafi, putra pemimpin Libya. “Yayasan ini menegaskan kepada saya bahwa kapal akan mencoba untuk mencapai pelabuhan Gaza untuk membongkar muatannya,” kata anggota Knesset atau parlemen Israel itu, yang menekankan “pentingnya politik dan kemanusiaan untuk memecah blokade (ke Gaza).”

Ketegangan sempat terjadi ketika Amalthea sampai di lepas pantai Gaza. Kantor Berita Reuters seperti dimuat Haaretz.com, melaporkan bahwa terjadi perselisihan antara awak kapal dan aktivis pro-Palestina yang berniat menembus ke Gaza.

Gaza-Strip-and-Amalthea

Kapal rudal Israel telah membayangi sejak Amalthea mendekati perairan Palestina. Seorang wartawan Al-Jazeera di atas kapal amal itu mengatakan, kapal-kapal Israel berbaris membentuk dinding dimaksudkan untuk mencegah Amalthea melanjutkan ke wilayah Palestina.

Sementara Israel bersikeras tidak akan mengizinkan kapal melewati blokade, para pejabat Hamas di Gaza telah mendesak Amalthea untuk terus maju. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, Rabu (14 Juli) mendesak para aktivis untuk tidak membiarkan kapal kargo mereka dialihkan dari pantai Gaza. Dan disebut dalam pidatonya, ia mengundang lebih banyak lagi “kapal kebebasan” Pro-Palestina.

“Konvoi laut dan darat harus dilanjutkan. Kami harap kami dapat bergantung pada negara-negara Islam untuk membantu kami menyingkirkan blokade,” kata Haniyeh, mengacu pada blokade di Jalur Gaza oleh Israel.

Sementara itu, Deputi Perdana Menteri Israel, Meridor mengatakan, “Siapa pun yang ingin membawa bahan yang bukan bahan berbahaya seperti – amunisi dan sebagainya – dapat membawa mereka melalui El-Arish, dapat membawa mereka melalui pelabuhan Israel di Asdod.”

“Apa yang kami inginkan adalah untuk menetapkan pengaturan untuk inspeksi, jadi kami selalu dapat memeriksa dan tidak menginginkan mereka untuk menerobos masuk,” kata Meridor.

Radio Israel memberitakan bahwa angkatan laut Israel mengingatkan kepada nakhoda kapal yang berasal dari Kuba itu untuk berbalik atau mengalihkan tujuan ke tempat lain.

“Anda bertanggung jawab atas orang-orang di kapal, dan setiap upaya untuk memasuki wilayah akan dianggap kesalahan Anda saja.” suara yang diidentifikasi sebagai negosiator AL terdengar oleh reporter.

Kemudian juru bicara militer mengatakan kapten Amalthea yang bernama Antonio itu berjanji kepada pejabat AL Israel bahwa ia tidak akan terus Gaza melainkan ke El-Arish Mesir. Kapal yang panjangnya 92 meter itu akhirnya menuju ke Mesir dan membongkar muatannya di pelabuhan El-Arish.

Bulan Mei lalu upaya Israel untuk memblokir kapal Mavi Marmara yang membawa misi serupa ke Gaza membuahkan insiden yang berakhir dengan kematian sembilan aktivis Turki dalam konfrontasi kekerasan yang menyebabkan dunia mengecam Israel. Kali ini menghadapi aksi Libya, Israel tidak terpancing untuk melakukan tindakan ceroboh.

Dari informasi yang dikeluarkan oleh Kantor Perdana Menteri Israel pada hari Selasa melukiskan bahwa kapal (Libya) punya kepentingan lebih dari hanya sekedar mengirimkan beras dan minyak jagung. Paket dikirim melalui email termasuk link ke laporan Al-Jazeera di mana relawan Maroko di kapal mengatakan, “Kita sebagai Muslim tidak takut mati. Sebaliknya, kami cinta mati syahid.” Paket ini meliputi sebuah pengingat bahwa keterlibatan Libya dalam terorisme adalah “sesuatu yg terkenal”.

Bila mempelajari gelagatnya, Libya memang punya agenda lain dalam misi ini. Bulan Maret lalu dalam KTT Arab di kota Sirte – Libya, Syria dan Libya menekan Liga Arab untuk menghentikan perundingan damai dengan Israel dan meneruskan perlawanan senjata.

Kadhafy-Assad

Moamar Kadhafy pemimpin Libya mengancam akan menarik dukungannya terhadap inisiatif perdamaian yang diluncurkan pada pertemuan puncak Liga Arab 2002 di Beirut.

Sementara itu rekannya Presiden Syria, Bashar Assad mendesak Presiden Palestina Mahmoud Abbas, untuk menarik diri dari rencana perdamaian yang didukung AS dan (mengajak untuk) mengangkat senjata terhadap Israel, menurut dua delegasi yang berbicara tanpa menyebut nama karena sensitivitas masalah ini.

Mereka mengatakan Assad juga mendesak negara-negara Arab untuk menghentikan setiap kontak dengan Israel, meskipun hanya Mesir dan Yordania telah memiliki perjanjian perdamaian dengan negara Yahudi. “Harga perlawanan tidak lebih tinggi dari harga damai,” Abbas mengutip salah satu delegasi Assad.

Ajudan senior Abbas, Nabil Abu Rdeneh dengan cepat menghentikan tekanan. “Mari kita bersikap realistis. Kami tidak akan mengikuti mereka yang memiliki agenda khusus,” katanya kepada televisi Al-Jazeera.

“Kami siap untuk setiap opsi Arab, jika mereka ingin berperang, biarkan mereka menyatakannya dan memobilisasi tentara mereka dan orang-orang mereka dan kami akan menyusul..”

Perselisihan di antara anggota Liga Arab mencerminkan perbedaan pandangan tentang bagaimana menangani perundingan Timur Tengah yang macet. Dan Libya serta Syria adalah dua negara yang bersikap keras terhadap hal itu.

Kelihatannya isu blokade Israel atas Gaza ini bisa dijadikan alasan untuk menyulut konflik, Kadhafy nampaknya sedang memanfaatkan momentum insiden Flotilla Mei lalu untuk menumpuk kutukan kepada Israel. Bukan saja supaya negara-negara Arab akhirnya sepakat untuk memulai pertempuran, tetapi agar dunia Internasional juga turut menyalahkan Israel bila konflik benar-benar pecah.

Israel mencium gelagat itu, pasca insiden Mavi Marmara, Israel mengubah kebijakannya menyangkut blokade Gaza. Nampaknya Israel akan melibatkan Uni-Eropa untuk turut serta dalam urusan penyelundupan senjata ke Gaza. Menteri Luar Negeri Lieberman bulan lalu telah mengundang pemimpin-pemimpin Uni-Eropa untuk meninjau Gaza.

Kepala kebijakan luar negeri Uni-Eropa, Catherine Ashton dijadwalkan akan tiba di wilayah tersebut dalam waktu dekat. Ashton diharapkan dalam rapat itu untuk membicarakan kemungkinan peran Uni Eropa di tempat penyeberangan Gaza untuk mempercepat transfer aliran barang bantuan.

Kemudian pada bulan tersebut, para menteri luar negeri Italia, Jerman, Perancis, Spanyol dan Britania diharapkan untuk pergi ke Gaza. Lieberman telah mengundang mereka bulan lalu, dengan beberapa pengecualian – tidak membiarkan politisi asing untuk menemui pemimpin-pemimpin Hamas sehingga melegitimasi mereka. Baik Ashton maupun para menteri luar negeri Uni Eropa tidak akan bertemu pejabat Hamas.

Israel tahu dengan melibatkan Uni-Eropa sebagai ‘penjaga’ Gaza, setidaknya mereka akan aman dari kecaman Internasional. Karena kapal-kapal berikutnya akan terus berdatangan. Hal ini dapat dijelaskan dari pidato pemimpin Hamas Khaled Mashaal yang melihat bahwa kapal-kapal penerobos blokade sebagai batu pijakan penting dalam mewujudkan delegitimasi Israel.

“Menghancurkan blokade adalah prioritas, dan kita harus memaksa dengan segala cara, termasuk kapal-kapal baru yang akan dijalankan dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, dengan pertolongan Allah,” kata Mashaal dalam sebuah pidato di Damaskus, Syria pada 28 Juni lalu.

“Saya menyerukan kepada orang-orang Arab dan Muslim dan pecinta kebebasan lainnya di dunia untuk menggandakan jumlah peserta,” katanya.

Sekarang kita melihat bahwa Libya juga telah berada pada posisinya sesuai nubuatan Daniel 11. Begitu juga Uni-Eropa, tidak lama lagi akan ‘masuk lapangan’, menjadi ‘penjaga gawang’ Israel ke Gaza. Itu artinya Eropa akan berhadapan dengan negara-negara Arab, terutama dari Afrika Utara, persis seperti formasi Daniel 11:40-43.

“…dan raja negeri Utara itu akan menyerbunya… Ia akan menjangkau negeri-negeri… Ia akan menguasai harta benda emas dan perak dan segala barang berharga negeri Mesir, dan orang Libia serta orang Sudan akan mengikuti dia.”

Satu lagi nubuat sedang masuk ke babak persiapan. Siapa bijak kiranya mulai menghitung hari-hari dan mempergunakan waktu yang ada dengan baik.

Sumber berita:
Yahoo! News, haaretz.com,
jpost.com art#181373, jpost.com art#171981, jpost.com art#151595

INSIDEN FLOTILLA & NUBUAT TENTANG TURKI

Mavi_Marmara 

Insiden Penyergapan rombongan kapal aktivis internasional yang disebut Armada Kapal Pembebasan (Freedom Flotilla) untuk Gaza oleh pasukan komando Israel, Senen 31 Mei 2010 mengejutkan dunia Internasional. Surat-surat kabar dan televisi serta kantor-kantor berita menayangkan ‘headline’ ini secara serempak hampir di seluruh dunia. Aksi penyergapan oleh tentara israel itu langsung menuai protes keras dunia internasional. Bukan hanya negara-negara yang bermusuhan, tetapi negara-negara sahabat dengan Israel tak pelak mengecam tindakan pasukan IDF(Israel Defense Force) yang menimbulkan 9 korban jiwa dan puluhan lain luka-luka.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Kin Moon menyatakan “terkejut” atas serangan Israel itu dan menuntut penyelidikan penuh atas insiden itu. “Saya terkejut… Saya mengutuk kekerasan ini.” ungkapnya.

Juru bicara Gedung Putih, Bill Burton, mengatakan, “AS sangat menyayangkan korban tewas dan luka-luka dan saat ini berusaha mempelajari keadaan terkait tragedi ini.”

Uni-Eropa menuntut dilakukannya penyelidikan atas insiden Flotilla ini. Jerman menyatakan “terkejut” atas aksi Israel itu. Perancis menganggap tindakan Israel itu “tidak sepantasnya”, sementara Italia meminta UE melakukan penyelidikan. Sejumlah negara Eropa termasuk Norwegia, Yunani dan Swedia langsung memanggil duta besar Israel meminta penjelasan.

Di London sekitar 1000 demonstran mendatangi kantor PM David Cameron dan kedutaan besar Israel. Di Paris sekitar 500 demontran bergabung mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan “Palestina akan bertahan, Palestina akan menang!” Di Athena polisi Yunani terpaksa menggunakan gas air mata untuk membubarkan sekitar 1500 demonstran di luar kedutaan besar Israel.

PERUBAHAN POLITIK TURKI  

Protes lebih keras lagi dari negara-negara Arab di timur tengah, mereka menuntut tindakan tegas internasional terhadap Israel. Turki, Mesir dan Yordania negara-negara tetangga yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel turut mengecam insiden ini sebagai “tindakan keji”. Turki langsung menarik duta besarnya dari Israel dan membatalkan tiga rencana latihan militer bersama Israel. Tidak sampai disitu, Turki yang saat ini merupakan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, menggelar sidang darurat membahas penyerangan Israel terhadap Armada Kapal Pembebasan itu.

Kemarahan masa di negara-negara Timur Tengah memuncak. Para demonstran menuntut pengusiran duta-duta besar Israel dari negara-negara Arab. Mereka juga menuntut blokade terhadap Gaza dibuka. Di Tripoli masa menuntut diberi senjata dan menuntut mereka dikirim ke Gaza. Di Teheran masa melempari kantor PBB, mereka membakar bendera Israel dan menyatakan “Rezim biadab Israel harus dimusnahkan.”

Turkish-Demo   

Di Turki, sekitar 10,000 demontran menuntut pembalasan terhadap Israel. “Gigi ganti gigi, mata ganti mata, pembalasan, pembalasan!” Pasalnya kapal Mavi Marmara yang mengangkut 600 lebih aktivis itu adalah kapal berbendera Turki, dan mereka mempercayai bahwa 9 orang yang tewas semuanya adalah warga negara Turki. Di ibukota Ankara sekitar 1000 orang mendatangi kediaman duta besar Israel Gaby Levy dan melempari halaman rumah itu dengan telur busuk dan sampah botol plastik. Masa Turki juga membakar bendera Israel dan menuntut tentara Turki ke Gaza.   

Pasca insiden Flotilla politik Turki mengalami perubahan yang drastis. Sebelumnya Turki merupakan negara sahabat Israel sejak 1949. Turki merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim pertama, yang mengakui kemerdekaan Israel dan merupakan partner perdagangan bebas dengan Israel sejak Januari 2000. Kedekatan Turki dengan Israel sering mengundang kemarahan negara-negara Arab.

Turki juga merupakan rekan yang penting dan strategis untuk AS. Selama perang dingin, Turki dan AS telah bersinergi menghadapi musuh bersama yaitu Uni-Soviet. Tahun 1952, Turki bergabung dengan NATO, dan membangun pangkalan udara di Incirlik – Turki. Selama ini pangkalan Incirlik merupakan basis yang penting bagi AS baik dalam menghadapi krisis dengan Uni-Soviet maupun berbagai krisis di Timur Tengah.

Namun sejak krisis di Gaza tahun 2008, Turki banyak mengkritik keras kebijakan Israel. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras tindakkan Israel dalam konferensi Forum Ekonomi Dunia di Davos September 2009. Pada tanggal 11 Oktober 2009, hubungan menjadi lebih tegang ketika Israel dilarang mengikuti latihan militer bersama di Anatolia – Turki. Semula latihan akan dilaksanakan bersama Turki, Israel, Amerika Serikat, dan Italia. Namun, Turki menolak untuk mengizinkan Israel untuk menghadiri. Sebagai tanggapan atas hal itu, Amerika Serikat kemudian menarik diri dari latihan tersebut. Dan agaknya hubungan Turki-Israel hanya akan semakin memburuk.

PM Turki Erdogan menggambarkan tindakan Israel dalam insiden Flotila itu sebagai “terorisme oleh negara”. Dia mengatakan bahwa Israel “telah menunjukkan bahwa tidak menginginkan perdamaian di kawasan itu” dan telah “melanggar hukum internasional”. Selama sidang darurat Dewan Keamanan, Turki mendesak PBB untuk menghukum Israel atas tindakan tersebut. Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki tertulis menyatakan bahwa “kami sangat mengutuk praktek-praktek tidak manusiawi dari Israel.. Ini insiden menyedihkan, yang berlangsung di laut terbuka, dan merupakan aroma pelanggaran dalam hukum internasional, dapat mengakibatkan konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki dalam hubungan bilateral kita”. Turki memperingatkan bahwa semua kapal bantuan di masa depan akan dikawal oleh Angkatan Laut Turki. Pada 2 Juni yang lalu, Majelis Besar Nasional Turki mengeluarkan resolusi yang menyerukan peninjauan hubungan diplomatik dengan Israel.

Demikian pula dari pihak Israel tidak menunjukkan adanya keinginan untuk melunakkan suasana. Para pejabat Israel, menolak tuduhan Turki, dan menyatakan armada itu adalah upaya penyamaran untuk mematahkan blokade Israel di Gaza. “Jika memang itu adalah misi kemanusiaan, penawaran oleh pemerintah Israel untuk mentransfer bantuan, lewat pelabuhan Asdod, ke Gaza melalui darat akan diterima. sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, “kata Daniel Carmon, wakil tetap Israel di PBB. Israel menuduh balik armada itu sebagai provokasi untuk menerapkan kekerasan.

Carmon juga mencatat bahwa beberapa aktivis Palestina termasuk dalam anggota dari Yayasan Turki untuk Hak Asasi Manusia dan Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan, yang dikenal dengan singkatan IHH Turki, katanya memiliki hubungan dengan organisasi teroris termasuk Al Qaeda.

Sementara itu di Tel-Aviv, Israel, menurut Ynet, situs berita terbesar Israel, demonstran berkumpul di depan Kedutaan Besar Turki membawa tanda-tanda yang mengatakan “Provokasi bukanlah cara untuk perdamaian” dan “Erdogan-Islam-fasis”. Hal ini menunjukkan hubungan kedua negara berada pada titik yang paling rendah sejak 1949.

MESIR AKAN MENYUSUL

Cepat atau lambat, Israel pasti akan kehilangan Turki sebagai sahabat. Alkitab telah menyatakan bahwa kerajaan Lidya(Turki), Kush(Sudan) dan Put(Libya) akan ada bersama-sama Mesir di pihak Raja dari Selatan (Liga Arab) untuk melawan Raja Utara (Uni-Eropa) di akhir zaman.

“Itulah Mesir yang meluas seperti sungai Nil, dan yang airnya bergelora seperti sungai-sungai. Ia berkata: Aku mau meluas menutupi bumi, membinasakan kota dan penduduknya. Majulah, hai kuda-kuda! Melajulah, hai kereta-kereta! Majulah berperang, hai pahlawan-pahlawan, hai kamu orang Kush dan orang Put yang memegang perisai, dan orang Lidia yang melentur busur.” (Yer 46:8-9)

Tinggal berikutnya Mesir, yang tidak lama lagi akan bermasalah dan akan meninggalkan Israel sendirian. Mesir tiga tahun lalu sepakat memblokade Gaza yang telah dikuasai oleh HAMAS. Satu-satunya penyebrangan dari Gaza yang tidak dikuasai Israel adalah wilayah kota Rafah yang dikuasai Mesir.

Selama tiga tahun ini Israel dan Mesir bekerjasama memblokade Gaza dengan tujuan memutus jalur pasokan senjata bagi Hamas dari luar Gaza. Kantor berita Reuters menyatakan bahwa pasca insiden Flotila, Mesir telah membuka sebagian blokade di Rafah. Apapun yang akan terjadi di kemudian hari, nubuat Alkitab menyatakan bahwa Mesir akan bangkit bersama Ethiopia, Libya, dan Turki. Dan Pasukan Eropa akan melanda mereka (Dan 11:40). Tidak lama kemudian perjanjian Tujuh Tahun mengenai Yerusalem akan disahkan (Dan 9:27), dan penganiayaan di Yudea pun akan segera dimulai (Mat 24:15)

Rafah-cross

Peristiwa demi peristiwa terus terjadi, menggenapi nubuat-nubuat Alkitab. Perubahan peta politik di Timur Tengah dan Afrika Utara akan terus berkembang, dan semua skenario telah disingkapkan agar kita mengerti. Hendaklah kita bijaksana dan pergunakan waktu yang ada dengan baik. Sebab tanda-tanda zaman telah semakin nyata.

THE MILLENIUM KINGDOM

King-of-Kings

MISTERI KERAJAAN ALLAH

Berita tentang datangnya Kerajaan Allah adalah inti dan tujuan dari Injil. Sejak awal penciptaan, Allah berkehendak agar manusia berkuasa atas bumi. Di Kejadian 1:28, Adam diberi kepercayaan untuk mengelola bumi dengan otoritas Allah. Inilah konsep Kerajaan Allah di bumi dari sejak semula. Itulah rencana Allah untuk manusia, yaitu mengelola dan menaklukkan bumi.

Apakah seiring dengan jatuhnya manusia dalam dosa tujuan ini bergeser? Walaupun manusia telah gagal oleh kejatuhan Adam, Allah tidak pernah merubah rencana-Nya. Alkitab mencatat dalam Roma 5:17 bahwa, “jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.”

Penebusan Kristus adalah penebusan terhadap seluruh kutuk manusia, termasuk kegagalan terhadap ‘destiny’ dan hilangnya kemuliaan Allah yaitu otoritas pemerintahan Allah. Ayat diatas mengatakan, oleh penebusan Yesus, kita bukan saja akan hidup tetapi juga berkuasa. Jadi jelas bahwa rencana Kerajaan Allah berlanjut terus dan masih merupakan tujuan Allah bagi manusia di bumi. Dan ‘destiny’ itu akan digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus yang akhirnya akan bertahta dalam Kerajaan-Nya kelak di masa Milenium. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memulai amanat agung dengan mendeklarasikan otoritas, “Kepada-Ku  telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat 28:18)

Berita tentang kedatangan Kerajaan Allah tetap menjadi berita utama pada masa Yesus memberitakan Injil. Adalah suatu kenyataan bahwa hal ini merupakan topik utama dari semua ajaran yang telah diungkapkan oleh Yesus pada kedatangan yang pertama. Dari keempat Injil dapat dilihat, betapa topik Kerajaan Allah selalu muncul dan menjadi background dari semua ajaran Yesus.

Dari awal, Yohanes Pembaptis yang ditugaskan memberitakan kedatangan-Nya, berseru-seru: “Bertobatlah! Kerajaan Allah sudah dekat”. Yesus sendiri ketika mengajar Nikodemus berkata: “Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Matius 4:23 mencatat: “Ia mengajar di rumah-rumah ibadah dan memberitakan Kerajaan Allah”. Kepada banyak orang Yesus juga berkata: “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43).

Dan memang banyak pengajaran penting yang Tuhan Yesus sampaikan selalu terkait erat dan menyangkut Kerajaan-Nya. Kotbah di bukit yang terkenal, diawali dengan: “Berbahagialah kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”. Lalu dalam berbagai perumpamaan Tuhan Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah. Bahkan Tuhan Yesus mengajarkan agar tiap kali kita berdoa agar Kerajaan Allah datang ke dalam hidup kita.

Thema Kerajaan ini begitu penting bagi Yesus untuk diajarkan kepada murid-murid-Nya. Sampai-sampai, setelah kebangkitanpun Kisah Rasul 1:3 mencatat: “Selama empat puluh hari, Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah”. 

YESUS ATAU WAKILNYA

Apa sebenarnya yang Yesus maksud dengan kedatangan Kerajaan Allah? Inti dari berita tentang Kerajaan Allah adalah bahwa akan datang suatu Kerajaan Tuhan yang akan memerintah bangsa-bangsa dengan adil di bumi (Maz 67:5) dan Hukum-hukum Allah akan menjadi terang bagi segala bangsa (Yes 51:4) Pada masa itu umat Tuhan akan dibebaskan dan hidup tentram (Yer 23:6) serta damai akan memerintah di seluruh bumi (Mik 4:3).

Jangan salah mengerti Kerajaan Allah yang diberitakan disini bukan konsep ‘christendom’ yang dianut para pemimpin gereja Roma. Kerajaan Allah yang dijanjikan Tuhan Yesus bukanlah kerajaan kristen yang diperintah oleh para Paus. Yesus sendiri yang akan memerintah sebagai Raja dalam Kerajaan Allah di bumi. Rasul Paulus menegaskan “…hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, pada waktu-Nya Ia akan muncul, siapa yang terberkati dan Penguasa satu-satunya, Raja di atas segala raja, Tuan diatas segala tuan.” (1Tim 6:15 KJV)  

Selama berabad-abad konsep ‘christendom’ atau konsep Kerajaan Kristen diajarkan kepada umat. Para Paus, pemimpin Gereja Roma mengklaim sebagai wakil Yesus dan penerima otoritas untuk memerintah umat manusia. Sejarah telah mencatat bahwa selama Gereja Roma berkuasa berbagai peristiwa penganiayaan tragis kepada orang-orang kudus justru semakin subur. Di Eropa ketimpangan dan ketidakadilan menimbulkan revolusi yang berbalik menyerang para imam dan gereja. Pemerintahan oleh manusia atas nama Allah hanya menampilkan kekuasaan yang absolut tetapi timpang, cenderung korup dan hanya akan menyengsarakan umat manusia.

Di awal abad ke-19 muncul ajaran yang senada di kalangan kaum protestan, yaitu ajaran Post-Milenialisme. Walaupun ajaran ini merupakan bentuk baru, namun paham ini kurang lebih memiliki pengajaran yang secara tidak langsung sama mengingkari akan kedatangan Yesus sendiri untuk memerintah di dalam Kerajaan Milenium. Paham yang juga disebut Rekonstruksionisme ini mengajarkan bahwa, orang Kristen akan mentransformasi seluruh dunia ini menjadi Kristen seluruhnya dan Tuhan Yesus baru datang setelah semua keadaan menjadi baik. Ajaran ini walaupun kelihatannya lurus tetapi sangat menyesatkan. Alkitab tidak pernah menubuatkan bahwa dunia ini akan semakin baik. Justru Rasul Paulus berkata bahwa keadaan manusia pada hari-hari akhir akan semakin egois, tidak peduli agama, garang, tidak berdamai dan tidak suka yang baik serta penuh hawa nafsu (2Tim 3:1-4).

Paham dari kelompok yang disebut penganut aliran Transformatif atau Rekonstruktionisme ini mirip dengan ajaran dari aliran Revivalis. Keduanya sama mempercayai bahwa dunia akan berubah menjadi ‘kristiani’ oleh usaha orang percaya. Bedanya kaum Rekonstruktionisme mempercayai umat Kristen akan mentransformasi lingkungannya lewat pengaruh mereka dalam kehidupan sehari-hari secara gradual, yang pada akhirnya mengubah seluruh dunia mengalami ‘atmosfir Kerajaan Allah’. Sedangkan kaum Revivalis mempercayai perubahan terjadi akibat kebangunan rohani yang merata ke seluruh dunia.

Walaupun sangat indah kedengarannya, bukan seperti itu yang Alkitab nubuatkan akan terjadi. Alkitab menubuatkan bahwa kita orang Kristen justru akan mengalami penyesatan dan aniaya pada hari-hari akhir.

“Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 24:9-13).

Hati-hati dengan kedua paham di atas yang dapat menjerumuskan umat. Kedua ajaran ini menggambarkan keadaan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang Alkitab singkapkan. Alkitab juga menyingkapkan bahwa modus operandi Antikristus pada akhir zaman adalah penyesatan lewat berbagai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Jangan sampai apa yang diperbuat oleh si pendurhaka nantinya dianggap sebagai tanda dari kebangunan rohani yang dipercayai akan segera terjadi.

Mereka yang mengajar bahwa gereja yang akan memerintah bukan Tuhan Yesus, jelas-jelas menentang Firman Allah. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus sendiri akan memerintah dunia, seperti dikatakan di dalam Wahyu 11:15,

“Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.”

Para pemimpin dan jemaat mesti benar-benar waspada dan tidak sembarang mengikuti teori manusia. Sering bila ada pengajaran yang dikatakan sebagai ilham roh atau dari mimpi dan penglihatan akan langsung dipercaya tanpa diperiksa lagi kebenarannya dengan Alkitab Firman Allah, dan pada gilirannya dapat menyesatkan jemaat Tuhan.

MENANTI SANG MESIAS

Seluruh nubuat mengenai akhir zaman bermuara pada suatu peristiwa, yaitu Kedatangan Kristus Yesus kedua kali untuk memerintah di bumi, yakni pada masa Milenium atau Kerajaan Seribu Tahun (Wah 20:4). Peristiwa inilah yang menjadi pengharapan umat Tuhan, dimana kelak keadilan akan memerintah di bumi. Peristiwa ini pula yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel selama berabad-abad, yaitu kedatangan Mesias untuk memulihkan negeri mereka.

Iman akan datangnya suatu Kerajaan yang akan diperintah oleh seorang yang diurapi, bukan hanya milik orang Kristen. Konsep kedatangan Mesias atau Yang Diurapi atau Al-Masih dipercayai oleh hampir semua agama Abrahamik, terutama mereka kaum tradisional yang cenderung masih murni pengajarannya. 

Mempercayai akan datangnya Kerajaan Mesias di bumi secara literal merupakan bagian yang penting dari kehidupan orang Israel. Dalam sejarah, hidup orang Israel layaknya kehidupan pengembara, keadaan ini dapat kita ingat mulai dari masa keturunan Yakub 400 tahun berada di Mesir, kemudian mengembara di padang gurun selama beberapa puluh tahun, kemudian bangsa ini harus diangkut dalam pembuangan ke Asyur dan Babilonia. Bahkan selama abad-abad modern suku-suku keturunan Yakub tercerai-berai ke seluruh penjuru bumi.

Sejak awal abad 20 mereka menyadari bahwa mereka mulai dikumpulkan kembali. Di akhir zaman ini mereka kembali mengalami eksodus besar-besaran dari berbagai negara, berbondong-bondong orang-orang Yahudi kembali ke tanah air mereka. Ada apa? Mereka mempersiapkan diri, bukan untuk negara yang mereka bentuk sejak 1948 itu. Bagi Israel yang benar-benar rohani, mereka kembali untuk menyambut kedatangan Mesias yang akan menghantar mereka kepada masa perhentian, yaitu masa Pemerintahan Sang Mesias atas Yerusalem.

Marilah kita yang menantikan Dia, menantikannya dengan tekun (Rom 8:25) dan berusaha agar kita tak bercacat cela dan didapati sempurna pada waktu Kedatangan-Nya (1Tes 3:13).

Alkitab Menubuatkan Perubahan Geopolitik Global

geopolitics-change 

Dalam eskatologi atau pengetahuan mengenai akhir zaman, masa tribulasi atau masa sukar sering digambarkan sebagai musim kemarau atau musim panas. Pada Perjanjian Lama akhir zaman itu dilambangkan dengan panen di musim kemarau. Di kitab Amos dan Mikha akhir zaman digambarkan dengan pengumpulan buah-buahan musim kemarau(Amos 8:1-2, Mikha 7:1). Di Perjanjian Baru Yesus memakai istilah ‘musim panas’ untuk menggambarkan masa sukar atau masa tribulasi (Mat 24:32, Mark 13:28, Luk 21:30).  

Alkitab menubuatkan ada peristiwa besar yang akan terjadi menjelang masa tribulasi yang dilambangkan dengan ‘musim panas’ atau ‘masa kemarau’ ini. Salah satu tanda tersebut adalah Perubahan Geopolitik dunia. Sebuah perubahan drastis dari peta politik dunia akan terjadi menjelang masa-masa yang paling menentukan, yaitu memasuki ‘musim panas’ itu.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus dalam Lukas 12:54-56, mengatakan: “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini.”

Sepintas perkataan ini, hanya seperti sebuah analogi yang kebetulan cocok untuk mengecam orang-orang yang tidak dapat menilai zaman. Tetapi setiap perkataan Tuhan Yesus tidak pernah diucapkan hanya untuk satu tujuan yang dangkal saja, selalu ada makna lain yang dalam dari setiap perkataan-Nya. Ingatlah bahwa Dia adalah ‘Kalimatulah’, Sang Firman Allah sendiri.

Perhatikanlah semasa hidup-Nya yang singkat di masa lalu, Yesus tidak pernah mengatakan sesuatu yang bersifat sekadarnya. Setiap kata yang keluar dari mulut-Nya adalah Firman. Dalam Yoh 6:63 Dia berkata: “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Dia juga berkata dalam Mat 24:35, “bumi ini akan lenyap, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Artinya setiap perkataan Yesus memiliki makna yang lebih dari sekedar perkataan biasa.

Perkataan Tuhan Yesus di Lukas 12:54-56 di atas mengandung pengajaran bahwa situasi memasuki masa tribulasi itu seperti situasi perubahan musim, yaitu dari ‘musim hujan’ ke ‘musim panas’ atau ‘kemarau’. Bagaimanakah situasinya? Awan yang di sebelah barat itu akan sirna, hujan akan berhenti, dan angin selatan akan bertiup, lalu kekeringan akan melanda.   

Ini adalah sebuah ‘prophecy’ atau suatu nubuatan bahwa, menuju ke masa sukar itu akan ditandai dengan suatu perubahan Geopolitik secara global menjelang masa sukar. ‘Hujan’ yang melambangkan situasi yang penuh berkah akibat ‘awan dari barat’ akan segera berlalu. Sebagai gantinya ‘angin dari selatan’ akan bertiup, dan ‘kemarau’ pun kemudian datang.  

SURUTNYA AWAN DARI SEBELAH BARAT

Apakah awan dari sebelah barat? Saya telah memeriksa di seluruh Alkitab kita, awan bermakna sesuatu yang positif. Pada Perjanjian Lama selain awan merupakan lambang perlindungan yang mengingatkan kita pada pengembaraan bangsa Israel di padang gurun, awan juga merupakan lambang dari kehadiran Allah di tengah manusia(Kel 13:21, Kel 16:10, Kel 19:9, Ima 16:2, 1Raj 8:10, Maz 68;5, Yes4:5, Yer 51:9, Yeh 10:4). Demikian juga dalam Perjanjian Baru, awan merupakan gambaran dari kemuliaan hadirat Allah (Mat 17:5, Kis 1:9, Luk 21:27, 1Tes 4:17, Wah 14;14). Lalu apakah barat itu? Barat adalah berbicara mengenai belahan bumi bagian barat. Bumi kita memang bulat, tetapi wilayah Amerika adalah wilayah yang diakui dan disebut sebagai barat. Dalam perhitungan waktu kita mengenal Amerika adalah wilayah yang paling barat(terakhir).

Jadi masa awan naik di sebelah barat adalah masa ‘kemuliaan Allah di Amerika’, masa ‘kepemimpinan rohani Amerika’. Masa itu merupakan ‘musim hujan’, musim penuh keberkatan bagi umat manusia di seluruh dunia. Masa dimana Injil Kerajaan dapat menjangkau bangsa-bangsa, sekaligus masa kemajuan perekonomian dunia mencapai puncaknya. Sayangnya masa itu kini memudar, ketika bangsa Amerika mulai memilih pemimpin-pemimpin baru yang duniawi dan tidak mengenal ‘standar rohani’. Para pemimpin baru mereka adalah penganut sistem duniawi, mereka melarang kegiatan rohani di sekolah-sekolah, mengijinkan seks bebas, melegalkan pengguguran kandungan, mengawinkan kaum homoseksual dan masih banyak kebijakan ‘baru’ yang muncul dan lambat laun memadamkan cahaya Kemuliaan Allah atas mereka. Dan krisis perekonomian dunia pun terjadi, dimulai dari Amerika. Masa Amerika memimpin sudah habis, wibawa ilahinya sudah pudar. ‘musim hujan’ itu pun sudah surut.

paman-sam-memprihatinkan

 

Bila kita mengikuti berita-berita paling mutakhir, kita akan tahu bahwa hal itu benar-benar sedang terjadi. Amerika Serikat sedang kehilangan pamornya. Presiden AS Barack Obama yang dielu-elukan ketika terpilih di Tahun 2008, tiba-tiba terjun bebas popularitasnya. Kebijakan bail out yang memanjakan Wall Street, kegagalannya menggerakkan perdamaian di Timur Tengah, mandeknya ekspansi NATO, krisis Nuklir Iran dan Korea Utara, bahkan kegagalan Amerika dalam hal memperjuangkan Chicago sebagai tuan rumah Olimpiade, menggambarkan Obama hanya pandai berpidato. Sementara itu kebijakan Jaminan Kesehatan yang kontroversial membuat Obama makin terpuruk di hadapan rakyatnya sendiri. Amerika akan sibuk dengan urusan-urusan dalam negeri, tidak akan lagi memainkan peranan besar di dunia.

Pudarnya kepemimpinan AS tercermin dari sikap banyak pemimpin dunia lainnya. Baru-baru ini (30/3) Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam pidatonya di Columbia University – New York, memperingatkan bahwa AS tidak bisa ‘menjalankan’ dunia sendirian. Sarkozy mendesak AS bergabung dengan Uni-Eropa untuk mengatur perekonomian dunia ke depan. Jangan memandang pernyataan Sarkozy yang nampak arogan ini dengan sebelah mata, Alkitab memang menubuatkan Eropa yang akan berperan sebagai ‘sherif dunia’ pada akhir zaman.

Sarkozy

Awal bulan ini (5/4), empat negara berpenduduk besar yang kemudian disebut kelompok BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) menyindir kepemimpinan AS dan mengangkat soal rapuhnya Dolar AS serta menyatakan ingin ‘merombak’ tatanan dunia. Bergeraknya BRIC membuat posisi AS makin tenggelam dalam kancah percaturan politik dan ekonomi dunia. Sementara AS tengah membenahi ekonominya yang amburadul akibat berbagai skandal perbankan dalam negeri, anggota BRIC justru sedang bangkit menjadi kelompok raksasa ekonomi baru.

BRIC-leaders

Sementara itu Israel negara yang selama ini mengandalkan AS sebagai sahabat setia, menganggap Obama sebagai tragedi besar untuk Israel. Pasalnya kebijakan Gedung Putih yang semula banyak menjadi ‘pembela’ Israel, kini berbalik arah menekan. Pemerintah Obama mengeluarkan 13 tuntutan kepada Israel, dan akhirnya Netanyahu dan sekutu koalisinya secara implisit menyatakan akan terus jalan walau tanpa AS. Di sisi lain, negara-negara Arab masih merasa bahwa Obama perlu mewujudkan tindakan-tindakan nyata terhadap Israel bukan sekedar ancaman di atas mimbar. Entah karena sebuah ‘ide cemerlang’ atau karena bingung dengan sikap Eropa dan BRIC, hari ini (26/4) Obama membuat gebrakan, AS menyelenggarakan KTT Ekonomi bersama negara-negara Islam. Apakah ini pertanda ‘awan dari barat’ telah sirna sama sekali?

BERTIUPNYA ANGIN SELATAN

Lalu apakah Angin Selatan? Berbeda dengan awan, angin dalam Alkitab banyak melambangkan sesuatu yang negatif. Angin itu sering dipakai untuk melambangkan suatu hukuman atau tulah (Ayu 30:22, Maz 11:6, Pen 8:8, Yes 19:7, Yer 22:22, Yer 23:19, Yeh 17:10, Dan 7:2, Hos 13:15, Zak 9:14), juga kecemasan atau ancaman (Ima 26:36, Maz 55:9, Ams 1:27, Yes 4:6,  Yes 25:4, Yes 32:2, Mat 7:25, Mat 14:30, Yak 1:6, Wah 6:13). Apakah tulah atau ancaman dari Selatan? Hal ini terutama menggambarkan kegerakkan dari negara-negara Selatan Israel yaitu negara-negara Arab dan Afrika Utara.

‘Angin Selatan’ memang sedang mulai bertiup pada waktu-waktu ini. Ketika AS pada 12-13 April lalu menyelenggarakan konferensi Internasional tentang keamanan nuklir, yang mengangkat kasus nuklir Iran. Dunia Selatan tidak tinggal diam, sepekan kemudian Tanggal 17-18 April mereka menyelenggarakan konferensi tandingan di Teheran – Iran, dan mengangkat persoalan nuklir Israel. Hal Ini merupakan refleksi perlawanan yang semakin jelas dari negara-negara Selatan terhadap dominasi negara-negara Utara(negara-negara maju). Disini kita melihat kepemimpinan Iran yang dominan, ini sesuai dengan peran Iran(Elam) dalam nubuat mengenai Armagedon kelak.

Bulan sebelumnya, para pemimpin Arab telah menyelenggarakan KTT Liga Arab ke-22 di kota pantai Sirte – Libya – Afrika Utara (27-28/3). Mereka terutama membahas ketegangan di kawasan timur tengah. Dalam kaitan krisis di Yerusalem Timur, SekJen Liga Arab Amir Mousa memperingatkan dunia Arab agar siap terhadap segala kemungkinan terburuk jika proses perdamaian mengalami kebuntuan. Menurut Mousa sudah tiba saatnya melawan Israel secara tegas, proses perdamaian harus ada batas waktu.

amr-moussa-peace-failure 

Sementara itu Afrika Utara mulai menunjukan ‘panasnya angin selatan’. Dengan gerakan Al-Qaeda melalui sayap organisasinya di Afrika Utara (Al-Qaeda Islamic Maghreb/AQIM) membuat negara-negara gurun ini makin membara. Foxnews melaporkan awal Maret lalu (1/3) bahwa, jaringan teror Al Qaeda di Afrika Utara ini tumbuh cepat dan merekrut banyak anggota baru, ancaman akan mengguncang daerah yang sudah rawan ini.   Bruce Riedel, seorang rekanan senior di Brookings Saban Center (Sebuah lembaga studi AS mengenai Timur Tengah) dan mantan pejabat CIA, mengatakan bahwa kelompok teror Afrika Utara AQIM memiliki potensi yang sangat besar untuk beroperasi di tengah populasi negara-negara Islam Sub-Sahara ini. “Sekarang, jika mereka mulai melakukan reorganisasi, merekrut dan mengembangkan, karena potensi internasionalnya, bisa menjadi ancaman yang jauh lebih berbahaya lagi.”

aqim-training-camp

TVONE melaporkan bahwa, Tujuh negara Afrika utara, Pertengahan Maret (16/3), mengadakan pembicaraan di Aljazair untuk merencanakan reaksi terkoordinasi terhadap AQIM, setelah ancaman teror meningkat di wilayah Sahara-Sahel. AQIM, yang dikendalikan dari Aljazair, melancarkan sejumlah serangan di negeri itu, termasuk serangan bunuh diri dengan sasaran rombongan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika yang menewaskan 22 orang dan melukai lebih dari 100 orang. CBS News melaporkan bahwa, pemimpin Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) Abu Mus’ab Abdel Wadud, telah mendesak umat Islam untuk membiayai serangan terhadap kepentingan AS dan Israel di Afrika Utara, dalam sebuah rekaman suara disebuah website Islam militan. Selain itu AQIM juga mengancam akan menyerang pada saat penyelenggaraan World Cup.  

Afrika Utara mulai memanas sejak akhir tahun lalu. Telah banyak terjadi berbagai insiden yang mencemaskan di Afrika Utara, mulai dari berbagai penculikan, pembajakan, sampai konflik kemanusiaan yang menelan ratusan korban jiwa.  Aljazeera melaporkan telah terjadi peningkatan insiden pembajakan kapal-kapal niaga di perairan Afrika.  selama Tahun 2009 telah lebih dari 100 peristiwa pembajakan terjadi.

Angin Selatan benar-benar sedang mulai bertiup, musim panas telah datang. Rupa bumi dan langit kita tahu menilainya, kita harus dapat menilai zaman ini. Berjaga-jagalah!