AGENDA TUHAN DALAM KITAB IMAMAT

Tulisan ini merupakan artikel Ketiga dari empat artikel spesial yang diterbitkan House of Revelation pada hari yang istimewa, yaitu hari terakhir dari Milenium Keenam yang ditandai dengan Gerhana Matahari Total Tanggal 20 Maret 2015. Perhatikan, empat artikel ini telah dipersiapkan untuk menyingkapkan Rahasia Hari Kedatangan Tuhan, kita tidak akan menyembunyikan lagi, karena sudah tiba waktunya untuk menyngkapkannya. Diharap semua rekan pembaca menyimak sampai selesai seluruh rangkaian artikel yang disampaikan, tanpa terburu-buru mencela atau menghakimi. Rangkaian artikel yang dimaksud adalah :

MEMAHAMI MISTERI KERAJAAN ALLAH
GERHANA 20 MARET 2015 & KALENDER SANG PENCIPTA
AGENDA TUHAN DALAM KITAB IMAMAT
MEMAHAMI KAIROS (WAKTU TUHAN)

Berusahalah untuk memahami wahyu Tuhan Yesus yang telah termeterai berabad-abad, dan yang kini meterainya telah dibuka oleh Tuhan kita (Wah 6). Tujuan tulisan ini adalah menyingkapkan Firman Tuhan bagi mereka yang dituju oleh Kasih Karunia Kristus. Tidak ditujukan kepada mereka yang menolak kasih karunia-Nya, silahkan lanjutkan membaca atau berhenti disini.

 

 

Di kitab Imamat kita menemukan bahwa TUHAN menetapkan peristiwa-peristiwa mana yang harus selalu diingat oleh bangsa Israel turun-temurun, dan peristiwa-peristiwa itu wajib diperingati dalam mekanisme perayaan hari-hari raya tahunan yang waktunya tetap tidak boleh diubah-ubah sepanjang masa.

“Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.” (Imamat 23:4)

Bila kita memperhatikan perintah ini terlihat sesuatu yang tidak biasa. Kita mengenal TUHAN bukanlah ilah agamawi dan suka kita memelihara hari-hari tertentu, tetapi mengapa Ia memerintahkan kepada bangsa Israel untuk memperingati hari-hari yang tetap, mengapa tidak cukup mementingkan makna peringatannya saja? Tentu TUHAN punya suatu alasan yang penting dibanding sekedar mensakralkan suatu hari tertentu semata.

Hari-hari itu memang merupakan “petunjuk waktu” bagi umat TUHAN, sehingga mereka diperintah untuk terus-menerus memelihara hari-hari itu secara tetap tanggalnya. TUHAN memang mempunyai maksud, hari-hari raya itu sebagai “Mo’edim” atau “appointment times” atau “Waktu Pertemuan Kudus” diri-Nya dengan umat kesayangan-Nya.

“… Hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN yang harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, waktu perayaan yang Kutetapkan… ” (Imamat 23:2)

Bagi orang Yahudi, hari-hari raya itu juga dimaksudkan sebagai “Shamar” atau “Observance” atau “Waktu untuk Berjaga-jaga”. Maksudnya adalah agar mereka siap sedia menghadapi peristiwa penggenapan dari nubuat yang terkandung dalam makna hari raya itu sendiri kelak. Alkitab mengajarkan bahwa, hari-hari raya ini memang merupakan waktu untuk umat Tuhan berjaga-jaga.

“Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN.” (Kel 12:42)

Rasul Paulus juga menyingkapkan bahwa hari-hari raya sesungguhnya lebih merupakan bayangan atau nubuat dari apa yang harus terjadi di masa mendatang, yang menubuatkan peristiwa-peristiwa berkaitan dengan Kristus di zaman akhir.

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” (Kol 2:16-17)

 

TIGA HARI RAYA PERTAMA

Sebagai contoh hari raya “Paskah Yahudi” atau “Pesach” (Imamat 23:5), kita semua tahu ini merupakan perlambang untuk peristiwa pengorbanan Yesus, yang merupakan penggenapan dari arti Paskah itu sendiri. Paskah Yahudi yang diperintahkan untuk diperingati setiap tahun itu ternyata juga merupakan petunjuk hari bahwa suatu kali bertepatan dengan hari Paskah Yahudi itu, Anak Domba TUHAN akan dikorbankan untuk menyelamatkan umat manusia. Dan hari dimana Kristus Yesus dibunuh jatuh tepat pada tanggal 14 Nissan di hari persiapan Paskah Yahudi.

“Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: “Inilah rajamu! Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!” Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan” (Yoh 19:14-16a)

Begitu juga hari raya ”Roti Tidak Beragi” (Imamat 23:6) adalah nubuat terbentuknya Jemaat Tuhan yaitu Komunitas Yang Murni dan Benar. Rasul Paulus menjelaskan kaitan antara nubuat Paskah dan nubuat Roti Tidak Beragi ini yang menggambarkan Pengorbanan Kristus Yesus, Domba Paskah yang sesungguhnya telah memungkinkan kita menjadi Umat Yang Murni dan Benar.

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” (1 Kor 5:7-8)

Dan sesuai dengan nubuat hari raya “Roti Tidak Beragi” yang jatuh tepat setelah peristiwa Paskah, murid-murid dan orang percaya pertama memisahkan diri dari orang-orang Yahudi. Secara umum orang percaya pada saat itu bersembunyi dari mereka yang telah menangkap Yesus, secara propetik mereka menggenapi nubuat pemisahan “Eklesia” telah dimulai. (Kata Gereja berasal dari kata Yunani “Eklesia” artinya “dipanggil keluar” atau “dipisahkan”).

Demikian pula hari raya “Buah Sulung” atau hari raya “Berkas Unjukan Pertama”. Hari raya ini mengandung nubuat bahwa Yesus Kristus sebagai buah sulung di antara orang percaya akan menjadi yang pertama yang bangkit. Sesuai ketetapan hari rayanya, yaitu sesudah sabat, pada hari yang ketiga yaitu tanggal 17 Nissan, Kristus menggenapi nubuat hari raya Buah Sulung itu menjadi yang pertama bangkit dalam tubuh kemuliaan.

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (1Kor 15:20)

 

HARI RAYA KEEMPAT

Hari raya “Pentakosta Yahudi” atau “Shavuot” juga merupakan nubuat dan digenapi pada tanggal yang sama saat hari raya itu diperingati orang Yahudi. Hari Raya Pentakosta Yahudi ini dulu memperingati turunnya Sepuluh Hukum TUHAN. Namun bangsa Israel ternyata gagal dalam perjanjian tersebut.

TUHAN kemudian menubuatkan pemberian Roh Kudus kepada umat-Nya di zaman Perjanjian Baru. Dimana pemberian Roh Kudus merupakan suatu janji yang lebih sempurna yaitu mereka akan diberi suatu hati yang akan menuruti hukum-hukum TUHAN dan mereka akan menjadi umat yang taat melakukannya.

“Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” (Yeh 36: 27)

Peristiwa pemberian Roh Kudus ini juga telah digenapi tepat pada saat hari raya Pentakosta Yahudi diperingati (Kis 2:1). Jadi hari-hari raya itu memang merupakan nubuat dan sekaligus tanda waktu untuk berjaga-jaga menghadapi peristiwa-peristiwa Kristus pada zaman akhir.

Empat dari tujuh hari raya yang disebutkan Imamat 23 telah digenapi. Keempatnya jatuh pada tanggal-tanggal di musim semi, ada tiga hari raya berikutnya yang jatuh pada tanggal-tanggal di musim gugur akan digenapi di akhir zaman, yaitu hari raya “Peniupan Serunai”, hari raya “Pendamaian” dan hari raya “Pondok Daun”.

 

 

HARI RAYA KELIMA

Bagi orang Yahudi, hari raya kelima yaitu hari raya “Peniupan Serunai” atau “Rosh HaShanah” ini merupakan hari pertama dari sepuluh hari yang disebut “Yamim Noraim” (Sepuluh Hari Pertobatan), yaitu dari tanggal 1 bulan 7 (Tishri) sampai sepuluh hari kemudian yaitu tanggal 10 bulan 7, yaitu hari raya keenam, hari raya Pendamaian (“Yom Kippur”).

Orang Yahudi percaya bahwa selama “Sepuluh Hari Pertobatan” ini, Buku Kehidupan atau “Sefer HaChayim” dibuka, setiap orang dievaluasi kembali hidupnya apakah namanya akan dicantumkan atau dihapuskan dari Kitab Hayat tersebut. Jadi periode sepuluh hari ini setiap tahun menjadi periode yang paling khusuk diperingati untuk “Teshuvah” (berbalik) dan mencari perkenanan TUHAN sebelum memasuki Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) sebagai hari penghakiman setiap tahun.

“Sepuluh Hari Pertobatan” ini adalah nubuat datangnya masa pengujian yang akan datang di akhir zaman bagi jemaat Yahudi yaitu “Sepuluh Hari Kesusahan” (Wah 2:10) yang sering disebut sebagai “Great Tribulation”. Jadi hari raya peniupan serunai adalah peringatan datangnya sepuluh hari masa kesusahan besar bagi bangsa Israel di akhir zaman. Nabi Amos telah menubuatkan hari raya yang menjadi awal masa kesusahan Israel ini.

“ “Pada hari itu akan terjadi”, demikianlah firman TUHAN, “Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah. Aku akan mengubah perayaan-perayaanmu menjadi perkabungan, dan segala nyanyianmu menjadi ratapan… “ “ (Amos 8:9-10)

 

HARI RAYA KEENAM

Sementara itu hari raya keenam yaitu hari raya “Pendamaian” atau “Yom Kippur” selain lambang masa berakhirnya masa aniaya besar, juga merupakan momentum Kebangkitan Orang Percaya sebelum Hari Pengangkatan. Hal ini berkaitan dengan Tahun Yobel – yang merupakan lambang Kebangkitan Orang Percaya” – yang selalu diumumkan pada akhir perayaan hari “Pendamaian”.

Setiap menghadapi hari raya “Yom Kippur” orang-orang Yahudi akan memakai “kittle”, yaitu jubah putih polos yang sangat sederhana. Jubah ini pencerminan kemurnian dan hati yang merendah yang harus ditunjukkan menjelang hari raya tersebut. Kitab Wahyu juga menyebutkan perihal jubah putih yang diberikan kepada mereka yang setia sampai mati di masa Kesesakan Besar, hal ini sekali lagi menegaskan bahwa hari raya “Yom Kippur” dan hari-hari Tribulasi itu saling bekaitan erat.

“Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” (Wah 6:11)

Jubah putih yang disebutkan dalam ayat tersebut diatas dan “kittle” yang dipakai orang Yahudi pada hari raya “Pendamaian” sesungguhnya melambangkan “tubuh kemuliaan” yang akan diberikan kepada mereka yang telah setia sampai matinya dalam Tuhan, dan mereka akan bangkit mengenakannya pada suatu saat yang tepat dimana menurut aturan Tahun Yobel dalam kitab Imamat akan terjadi pada hari raya “Pendamaian”.

“… engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu…” (Imamat 23:9-10)

Tahun Yobel adalah tahun sabath setiap lima-puluh tahun sekali, dan merupakan masa pembebasan perbudakan dan segala hutang pihutang bangsa Israel. Tahun Yobel adalah lambang pembebasan dari kutuk maut dan hutang dosa, yaitu nubuat Kebangkitan orang percaya yang mati dalam Tuhan. Orang yang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan dari kubur mengenakan tubuh baru yang bebas dari maut pada waktu Tahun Yobel yang sesungguhnya digenapi.

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” (1Tes 4:16)

Perhatikan frase “sangkakala TUHAN berbunyi” adalah momentum pada waktu mengumumkan Tahun Yobel, dimana Tuhan memerintahkan agar sangkakala dibunyikan dimana-mana. Jadi pada hari raya “Pendamaian” inilah kelak orang-orang percaya yang mati dalam Tuhan akan lebih dahulu dibangkitkan, beberapa hari sebelum hari “Pengangkatan”. Itu sebabnya kepada mereka yang dibangkitkan, di kitab Wahyu disebutkan agar “mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi” (Wahyu 6:11). Itulah juga yang dimaksud Paulus ketika menyatakan bahwa “mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1Tes 4:16b).

 

HARI RAYA KETUJUH

Hari raya yang Ketujuh yang jatuh lima hari kemudian, yaitu hari raya “Pondok Daun” atau “Tabernakel” adalah lambang dari hari Kedatangan Tuhan untuk menjemput umat tebusan-Nya. Berbeda dengan dua hari raya yang mendahuluinya yang harus diperingati dengan prihatin dan khusuk, hari raya ini harus diperingati dengan penuh suka cita dan kegembiraan.

“pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil buah-buahan dari tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN… Pada hari yang pertama kamu harus mengambil dahan-dahan pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon palem, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu…” (Imamat 23:39-40 – KJV)

Perhatikanlah ciri yang unik pada hari raya Pondok Daun, orang-orang Israel diperintahkan membawa dahan-dahan dan pelepah pohon palem dalam perayaan yang penuh sukacita. Hal ini sangat khas dan merupakan nubuat peristiwa yang digambarkan oleh kitab Wahyu pasal Tujuh yang melukiskan suasana orang-orang percaya yang diangkat ke Sorga. Mereka juga melambai-lambaikan dahan pohon palem dan bersuka-ria di hadapan Tuhan.

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.”
(Wahyu 7:9)

Hari Raya Pondok Daun juga dikenal dengan sebutan lain, yaitu Hari Raya “Pengumpulan Hasil” (“Chag Ha-Asif”= “The Feast of Ingathering”). Orang-orang Israel biasa mengumpulkan hasil panen akhir tahun sambil merayakan hari Pondok Daun ini, maka hari raya ini diseut juga hari “Pengumpulan Hasil” atau “Penuaian Akhir”.

“…demikian juga hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang.” (Kel. 23:16b)

Hal ini membuat kita mengerti bahwa hari raya Pondok Daun atau hari “Tabernakel” merupakan nubuat berkaitan dengan Hari Kedatangan Tuhan untuk mengangkat orang percaya. Peristiwa “Pengangkatan” (“Rapture”) sering disebut juga sebagai peristiwa Pengumpulan (Gathering) yang dinubuatkan dengan Hari Raya Pengumpulan Hasil atau Hari Raya Pondok Daun ini.

“Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya (gathering – KJV) kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara…” (2 Tes 2:1)

Sudah waktunya untuk menyingkap rahasia ini kepada Jemaat Tuhan Yesus, yaitu bahwa peristiwa “Pengangkatan” orang percaya yang sering disebut juga sebagai peristiwa “Rapture”, akan terjadi pada saat jatuhnya hari raya “Pondok Daun” atau dalam bahasa Ibraninya hari raya “Sukkot”, yaitu pada tanggal 15 Tishri (bulan Tujuh Yahudi) pada suatu saat yang tidak lama lagi.

Hari raya Pondok Daun jatuh antara September atau Oktober Setiap tahun terus bergerak. Namun kita bisa mencari tahu dari internet, tanggal berapa tepatnya hari raya ini jatuh setiap tahunnya, dan tahun ini hari raya Pondok Daun jatuh pada tanggal 28 September 2015.

Dengan memahami bahwa hari-hari raya adalah nubuat Kedatangan Tuhan, kita bisa berjaga-jaga lebih sungguh lagi. Setelah menyingkapkan Tanggal dan Bulan Kedatangan Tuhan, apakah Alkitab juga menyingkapkan Tahun-Nya? Silakan baca artikel selanjutnya : “Memahami Kairos (Waktu Tuhan)”.

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.