Netanyahu Menolak Pidato Obama

Netanyahu Menolak Pidato Obama soal Kembali ke Batas Pra-1967.

 

Jika Anda benar-benar memahami nubuat-nubuat Alkitab, Anda akan berdebar-debar memperhatikan apa yang sedang terjadi di Timur Tengah saat ini, khususnya di wilayah Israel-Palestina. Sebuah peristiwa paling bersejarah dan merupakan titik tolak penggenapan dari nubuat paling penting dalam sejarah umat manusia, sedang digugat dan disangkali oleh dunia. Peristiwa bersejarah Perang Enam Hari 1967, yang mengembalikan wilayah Yerusalem, Yudea dan Samaria ke pangkuan Israel kini digugat dan wilayah itu harus diserahkan kepada Palestina. Ini artinya masa kesukaran akan segera terjadi di Yerusalem, Yudea dan wilayah-wilayah pemukiman orang Israel di Tepi Barat.

Seperti telah disampaikan dalam artikel no. 335 bahwa perdamaian yang sejati bagi Yerusalem hanya akan ada setelah Yesus Kristus kembali ke kota itu. Sudah lebih dari 6 dekade manusia mengupayakan berbagai cara namun sampai hari ini masalah kota tua Yerusalem tidak pernah kunjung selesai.

Di tengah kemelut dan pergolakan yang terjadi di negara-negara Arab beberapa bulan terakhir ini, tiba-tiba persoalan Israel-Palestina kembali memanas. Pemicunya adalah kontrovesi atas pidato Presiden AS Barack Obama pada Kamis 19 Mei 2011 lalu, sehari sebelum kunjungan PM Israel Netanyahu ke AS.

Aljazeera melaporkan bahwa Presiden As Barack Obama, mengenai masalah Israel-Palestina, mengatakan: “Perbatasan Israel dan Palestina harus didasarkan pada garis tahun (pra) 1967 dengan pertukaran wilayah yang disepakati bersama, sehingga batas-batas yang aman dan diakui ditetapkan untuk kedua negara.” Sikap Obama yang menghendaki Israel “kembali ke garis perbatasan tahun 1967” itu berdampak sangat luas dan membuat suhu politik di Timur Tengah makin memanas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu langsung menanggapi pidato Obama dan menolak ide Presiden AS itu. Israel akan menolak untuk kembali ke perbatasan yang “indefensiable” (tidak dapat dipertahankan). Netanyahu menekankan bahwa ia mengharapkan Obama untuk menahan diri dari menuntut Israel kembali ke perbatasan 1967, yang berarti akan meninggalkan populasi besar Israel di Yudea dan Samaria di luar perbatasan Israel, demikian Hareetz melaporkan.

Pada hari Minggu (22/Mei/2011) Obama mengomentari ulang kerangka kerjanya untuk menetapkan perbatasan Israel-Palestina berdasarkan batas pada tahun 1967, dengan memperhitungkan perubahan demografis yang telah terjadi sejak Israel menguasai Tepi Barat. Berbicara pada pertemuan tahunan Komite Amerika untuk Urusan Publik Israel, AIPAC (American Israel Public Affairs Commitee), Obama mengklarifikasi pidatonya yang ia sebut ditangkap bias dan telah menimbulkan kontroversi.

ISRAEL TERDESAK KE POSISI PRA-1967

Rakyat Palestina Merayakan

Aktivis Palestina berunjuk rasa menyambut Pidato Obama

Namun penyebutan perbatasan tahun 1967 itu telah terlanjur menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra, harapan palsu dan kecemasan, terutama di wilayah yang disinggung. Sebagian besar Publik Israel menunjukkan respon negatif. Sementara itu para pemimpin dan publik Palestina menunjukkan reaksi yang beragam antara gembira dan skeptis terhadap pernyataan Obama. Juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri mengatakan kepada Aljazeera bahwa, Obama perlu membuktikan kata-katanya dengan langkah kongkrit bukan sekedar slogan.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas langsung menghubungi Liga Arab. Kantor Berita milik Pemerintah Qatar, QNA (Qatar News Agency) memberiotakan bahwa Liga Arab berencana meminta PBB memberikan keanggotaan penuh ke negara Palestina berdasarkan perbatasan dengan Israel yang ada sebelum Perang Timur Tengah 1967, seperti dilaporkan CNN.

Beberapa pemimpin negara Uni-Eropa terkemuka seperti Inggris dan Perancis langsung menunjukkan dukungan terhadap pernyataan Obama, karena memang Uni-Eropa mempunyai pandangan yang sama tentang garis perbatasan 1967 untuk Israel-Palestina. Bahkan Paris telah menawarkan diri menjadi mediator kepada PM Israel Netanyahu. Yahoo News melaporkan di Hungaria, dalam forum Asia Eropa (ASEM) ke-10, Selasa 7 Juni 2011, lebih dari 40 diplomat Eropa dan Asia menyatakan dukungannya pada rencana kerja Obama untuk perdamaian antara Israel dan Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967 dan negosiasi pertukaran lahan.

KOTA TUA YERUSALEM MENJADI SUMBER MASALAH

Israel kali ini benar-benar terdesak dan tidak dapat menghindari tuntutan dunia berkaitan garis perbatasan pra Perang 1967. Namun Israel tidak mungkin kembali ke garis perbatasan pra 1967, sebab masalahnya bukan hanya pemukiman Israel yang terlanjur berada di wilayah paska 1967 saja, tetapi terutama berkaitan dengan kota tua Yerusalem (Yerusalem Timur). Yerusalem Timur yang merupakan wilayah yang diperoleh dari Perang Enam Hari 1967, tidak akan mereka lepaskan, karena Yerusalem adalah kota tempat tahta Daud, dimana mereka yakini pusat pemerintahan harus berada disana.

Sementara berkaitan dengan usulan pertukaran lahan, pihak Palestina juga tidak bakal melepaskan Yerusalem Timur untuk ditukar dengan wilayah manapun. Mereka juga berencana menjadikan kota Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina merdeka nantinya. Sudah dapat diperkirakan, masalah Yerusalem akan tetap menggantung, atau malah akan kembali menimbulkan konflik serius.

Karena tekanan Internasional ada wacana bahwa Israel bakal menyerahkan sebagian besar wilayah Yudea dan Samaria (yang disebut sebagai bagian dari Tepi Barat/West Banks). Bila hal ini benar-benar dilakukan maka akan terjadi penggusuran dan penindasan besar-besaran terhadap para pemukim Yahudi di Yudea dan Samaria, karena sebagian besar warga Israel akan tetap mempertahankan tanah yang mereka yakini sebagai warisan bagi suku-suku Israel. Pada saat itulah anak-anak Yakub akan mengalami masa sukar yang akan semakin memuncak menjadi aniaya besar seperti yang dinubuatkan jauh=jauh hari oleh Alkitab.

“Hai, alangkah hebatnya hari itu, tidak ada taranya; itulah waktu kesusahan bagi Yakub… ” (Yeremia 30:7 )

VATICAN DI BELAKANG PIDATO OBAMA

Yahoo News melaporkan bahwa Paus Benediktus XVI dan Presiden Palestina Mahmud Abbas bertemu di Vatikan pada hari Jumat 3 Juni 2011 dan mengatakan ada “kebutuhan mendesak” untuk solusi yang langgeng bagi konflik Israel-Palestina. “Tekanan khusus diletakkan di atas kebutuhan mendesak untuk mencari solusi yang adil dan abadi bagi konflik Israel-Palestina,” kata Pemimpin Vatican itu dalam sebuah pernyataan setelah pembicaraan. Setiap resolusi konflik harus menghormati hak semua pihak termasuk melalui “pencapaian aspirasi sah rakyat Palestina untuk sebuah negara merdeka,” tambah pernyataan itu.

Presiden Palestina Abbas - Paus Benediktus, Vatican City 3 Juni 2011

     Presiden Palestina Abbas dan Paus Benediktus, bertemu     di Vatican City, 3 Juni 2011

Presiden Palestina Abbas – Paus Benediktus, Vatican City 3 Juni 2011

Proses perdamaian Timur Tengah telah menjadi perhatian serius Para Paus, sejak Paus PIUS XII, yang merupakan Raja kedua Vatican City, kemudian Paus Paul VI, Paus Yohanes Paulus II hingga Paus Benediktus XVI sangat aktif mengupayakan perdamaian antara Israel-Palestina. Paus Benediktus XVI, yang sekarang merupakan Raja ke tujuh Negara mikro Vatican City itu telah menyerukan pembentukan negara Palestina merdeka, saat berkunjung ke Israel pada tahun 2009. Benediktus telah empat kali bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas sejak dirinya menjadi Paus.

Kantor Berita Katholik – CNA (Catholic News Agency) dari Washington melaporkan, pada 19 April, 2011, Para Uskup Katolik AS telah bergabung dalam koalisi bersama pemimpin Yahudi dan Muslim mendesak Presiden AS dan Sekretaris Negara untuk mengambil kesempatan baru bagi upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Para Uskup dan pemimpin lainnya menyatakan dalam surat 14 April kepada Presiden Barack Obama dan Hillary Clinton, untuk menciptakan sebuah negara Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sesuai dengan perbatasan 1967. Dan memungkinkan Israel dan Palestina untuk berbagi kontrol atas Yerusalem, dan menyediakan bagi pemulangan pengungsi Palestina sesuai dengan perjanjian kesepakatan antara kedua belah pihak.

Jika berita yang dipublikasi oleh CNA ini benar, maka kita tahu bahwa Vatican sedikit banyak berada di belakang kebijakan Obama dalam hal ini.

Apakah sesungguhnya kepentingan Vatican dalam kaitan konflik Israel-Palestina? Para Paus telah lama mengincar situs-situs bersejarah di tanah Israel agar dapat dikuasai Vatican City. Para Paus selama berpuluh-puuh tahun terus berjuang dan bernegosiasi, baik dengan pihak Israel maupun otoritas Palestina. Vatican melihat siapa yang lebih menguntungkan mereka dan siapa dapat menjanjikan penguasaan tempat-tempat suci itu kepada Vatican. Bahkan Vatican mempunyai ambisi untuk menguasai kota tua Yerusalem dan menjadikan wilayah tersebut mirip Vatican City di tengah-tengah kota Roma.

Ketika Yerusalem berada di bawah kekuasaan Antikristus, maka nubuat Alkitab akan menjadi kenyataan, penganiayaan besar yang terkenal sebagai “Great Tribulation” akan merebak di Yerusalem dan di seluruh Yudea.

Kita telah melihat hal-hal ini sedang digenapi, masihkah orang berkata bahwa waktunya masih sangat lama ? Siap sedialah umat kudus-Nya.

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “VATICAN DIBALIK PIDATO OBAMA: ISRAEL HARUS KEMBALI KE BATAS PRA-1967”

  1. Refky says:

    Syalom Pak Abram Thio
    Saya minta ijin copas ya Pak?
    Sebelumnya terima kasih Tuhan Yesus Memberkati Bapak dan Team.

  2. B. Ontoseno says:

    Syalom,

    Terima kasih atas Secret Revelation Buku-1, sayang saya tidak mendapat buku-2nya, apakah masih ada yang jual ?

    Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.