the-black-horsemen

Penglihatan Kuda Hitam wahyu tentang Bencana Kelaparan

Salah satu krisis yang akan terjadi dan sekaligus menjadi tanda bahwa sistem dunia ini sedang menuju kepada akhirnya, adalah datangnya krisis pangan dunia. Dalam kitab Wahyu hal ini digambarkan sebagai munculnya Penunggang Kuda Hitam. Penunggang Kuda Hitam yang digambarkan membawa sebuah timbangan di tangannya oleh Kitab Wahyu, adalah lambang munculnya Otoritas Perdagangan yang pada akhirnya akan membawa kepada krisis pangan dunia.

Wahyu 6 ayat 6 mengatakan: “secupak gandum sedinar dan tiga cupak jelai sedinar, tetapi janganlah rusakkan (hurt – KJV) minyak dan anggur”. Ini adalah nubuat bahwa Otoritas Perdagangan akan membuat harga bahan pangan menjadi mahal, sementara bahan kebutuhan lain tidak terlalu terpengaruh. (minyak dan anggur di Alkitab digambarkan sebagai kebutuhan materi lainnya lihat Yoel 2:24).

Nubuat munculnya Penunggang Kuda Hitam ini sedang digenapi dewasa ini, harga-harga bahan makanan melambung tinggi, dan hal ini telah memicu bencana kelaparan yang melanda terutama di negara-negara miskin bahkan bila tidak diantispasi dengan baik akan berdampak kepada negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Tuhan Yesus juga menubuatkan  “Akan ada kelaparan … di berbagai tempat.” (Mat 24:7). Tahukah Anda bahwa bencana kelaparan global sedang melanda saat ini dan berdampak sangat serius? Mungkin orang tidak melihat kelaparan di kota mereka, tetapi inilah yang terjadi sesungguhnya, pada hari pangan sedunia 16 Oktober 2010, badan pangan dan pertanian dunia FAO menyatakan ada 1 milyar orang yang sedang dalam keadaan kelaparan saat ini.

Memasuki abad ke 21, kita melihat suatu masalah besar mulai terjadi di dunia ini. Dunia mulai dihadapkan pada krisis pangan yang serius. Tahun 1999 berkembang suatu wabah penyakit yang khusus menyerang tanaman pangan yang disebut Karat Batang (stem rust), yaitu penyakit yang diakibatkan sejenis jamur species Puccinia Graminis. Penyakit Karat Batang adalah penyakit yang hanya menyerang tanaman sereal seperti gandum, jelai dan tanaman padi-padian lainnya. Epidemi Karat Batang pada gandum yang disebabkan oleh ras Ug99 saat ini, menyebar di seluruh Afrika, Timur Tengah dan terakhir (2008) FAO melaporkan wabah ini telah mencapai Iran dan menyebabkan perhatian dunia karena besarnya jumlah orang yang tergantung pada gandum sebagai makanan. Nama Ug99 merupakan pengingat bahwa epidemi ini ditemukan pertama kali di Uganda Tahun 1999. Tidak seperti wabah lainnya Ug99 dapat mengakibatkan kegagalan panen hingga mencapai 100%.

Ancaman krisis pangan tidak hanya dari munculnya berbagai wabah pada tanaman pangan,  ada faktor-faktor lain yang mengancam ketahanan pangan dunia, salah satunya yaitu perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim sangat penting untuk ketahanan pangan. Ternyata 95% dari semua orang yang kekurangan gizi, tinggal di daerah-daerah sub-tropis dan tropis.

Menurut laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), Forum antar pemerintah yang mempelajari dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, kenaikan temperatur di wilayah-wilayah tersebut, sangat terkait dan berdampak pada kegagalan pada produksi pertanian dan dengan demikian menimbulkan krisis pangan. Sebagai contoh, kekeringan 1998-2001 di Asia Tengah membawa kerugian ternak 80% dan pengurangan 50% pada produksi gandum dan tanaman jelai di Iran. Angka-angka serupa terjadi di negara-negara lain. Peningkatan dalam cuaca ekstrim seperti kekeringan di daerah seperti Sub-Sahara malah memiliki konsekuensi yang lebih besar dalam hal malnutrisi. Bahkan tanpa peningkatan kejadian cuaca ekstrim, peningkatan suhu sederhana dapat mengurangi produktivitas banyak tanaman lain, dan akan mengurangi ketahanan pangan di wilayah kering ini.

Selain itu bila kita memperhatikan dengan seksama, Tahun 2007–2008 terjadi lonjakan harga bahan pangan yang ekstrim dan mengkhawatirkan yang disebut “krisis harga pangan dunia 2007-2008”  Harga rata-rata dunia untuk 4 bahan pangan pokok (Beras, Gandum, Jagung dan Kedelai) melonjak 146,25% dari 2006 ke 2008. Bahkan harga Beras telah mencapai 217% kenaikan4a). Hal ini bukanlah sesuatu yang wajar terjadi dan merupakan akibat krisis pangan global yang kemudian mengakibatkan berbagai instabilitas politik dan ekonomi dunia. Bahkan gejolak harga pangan ini dikhawatirkan merupakan gejala dari suatu krisis yang lebih serius di tahun-tahun yang akan datang.

Mengapa terjadi lonjakan harga bahan pangan demikian ekstrim? Di masa lalu, banyak negara terbiasa menyimpan cadangan bahan pangan yang cukup tinggi. Namun bersamaan dengan pertumbuhan produksi pangan dunia dan berbagai kemudahan dalam kebijakan import, negara-negara mulai menurunkan cadangan stok. Menurut Martin Khor mantan Direktur Third World Network (Jaringan untuk organisasi-organisasi yang bekerja untuk Dunia Ketiga dan kerjasama Utara-Selatan), IMF (dan WTO (organisasi perdagangan dunia) atas kepentingan ekonomi pasar bebas, juga telah turut bersalah karena menekan negara-negara berkembang, dalam perjanjian di sektor pertanian, untuk mengambil berbagai kebijakan yang membuat negara-negara yang semula mandiri dalam hal pangan menjadi tergantung kepada import dari negara-negara maju.

Ekonom pemenang hadiah Nobel untuk Economic Science, Amartya Sen mengamati bahwa, dalam beberapa dekade terakhir, bencana kelaparan yang terjadi selalu menyangkut masalah distribusi pangan atau kemiskinan. Sebab pada masa-masa bencana itu ternyata, ada makanan yang cukup untuk memberi makan seluruh penduduk dunia. Sen adalah Profesor Ekonomi dan Filsafat di Universitas Harvard, dan penerima puluhan gelar doktor kehormatan, serta pengajar pada universitas terkemuka dunia. Amartya Sen menyatakan bahwa gizi buruk dan kelaparan lebih terkait dengan masalah distribusi makanan dan daya beli masyarakat. Profesor Sen melihat bahwa ada kerangka kebijakan yang dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan pasar Internasional, yang membuat banyak negara tidak berdaulat dalam menentukan kebijakan pangan, yaitu untuk menentukan kebijakan pertanian, peternakan, dan perikanan, yang dapat menimbulkan ancaman bencana kelaparan dan gizi buruk secara global di masa yang akan datang.

Ancaman-Krisis-Pangan-Dunia

Ancaman Krisis Pangan Diberitakan di Seluruh Dunia

Krisis pangan memang telah menyebabkan bencana kelaparan di negara-negara miskin dan berkembang. Kita telah mendengar kelaparan melanda Ethiopia, Somalia, Sudan, Korea Utara. Baru-baru ini kelaparan kembali melanda Afrika, Afghanistan, Tajikistan dan Bangladesh. Tahun 2009, 10 juta penduduk Kenya menghadapi bahaya krisis pangan. Namun semua itu belum berakhir, dan kondisi yang lebih serius bisa berlangsung lebih lama. Akhir tahun lalu koran-koran dan kantor berita dunia mengangkat isu ancaman bahaya kelaparan global, setelah berbagai negara pengekspor gandum utama seperti Rusia melarang pengapalan gandumnya ke luar negeri.

Dunia benar-benar menghadapi ancaman bahaya kelaparan yang serius. Perubahan cuaca juga membuat panen gagal, negara produsen gandum terbesar ketiga, yaitu Rusia sampai melarang ekspor gandum dan serealnya (Grain), karena kekeringan dan kemarau parah melanda Rusia Tengah dan sepanjang Sungai Volga. Pemerintah Rusia menyatakan darurat pada 28 wilayah pertaniannya. Selain melarang ekspor, Pemerintah Rusia menjanjikan bantuan finansial 25 Milyar Rubles (Rp 7,5 Triliun) untuk memotivasi petani mereka yang mengalami kerugian akibat kekeringan. Ancaman kelaparan menjadi semakin serius dengan terjadinya berbagai bencana seperti banjir pada negara-negara produsen pangan dunia lainnya seperti Australia dan Brasil.

Jacques Diouf Dir. Jen. FAO (Badan Pangan & Pertanian Dunia) pada Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2010 di Roma menyatakan: “925 juta orang hidup dalam kelaparan kronis dan mal-nutrisi saat ini. 100 negara darurat terancam produksi pertaniannya, 30 negara dalam keadaan krisis pangan”. Selanjutnya Diouf mengatakan, “untuk menghindari bahaya Kelaparan Global produksi pertanian harus meningkat 70%, dan dua kali lipat di negara-negara berkembang”. Bila ternyata yang terjadi adalah kegagalan panen dimana-mana, krisis pangan benar-benar akan melanda lebih luas.

Berita-Ancaman-Krisis-Pangan

Ancaman Krisis Pangan juga Sering Diberitakan oleh Media Masa di Indonesia

Di tanah air sendiri, harian Kompas berkali-kali mengangkat isu krusial ini. Baik soal krisis yang terjadi secara global, maupun yang dirasakan secara regional, juga ancaman bahaya ini bagi bangsa kita. Kompas melaporkan bahwa isu ketahanan pangan merupakan problem serius yang dapat memicu masalah sosial.

Umat Tuhan tidak dapat berpangku-tangan dan diam tidak peduli pada persoalan yang datang mengancam. Gereja Tuhan justru seharusnya yang pertama siap menghadapi krisis ini, karena kepada kita telah diberikan penyingkapan atau wahyu jauh-jauh hari. Jika para pemimpin gereja tidak dapat “memahami” wahyu Tuhan ini, maka kesukaran besar akan dialami oleh umat-Nya.

Sekarang inilah waktu bagi nubuat-nubuat Kitab Wahyu digenapi. Nubuat Penunggang Kuda Hitam telah kita masuki zamannya, ini merupakan era terakhir sebelum Penunggang Kuda berikutnya: si manusia durhaka muncul. Jangan lupa, krisis kelaparan tidak akan berhenti ketika Penunggang Kuda Hijau Pucat muncul (Pale Horse Wah 6:8 KJV). Umat Tuhan justru akan mengalami masa “padang gurun” pada masa Antikristus itu berkuasa (Wah 12:6).

Pemimpin jemaat yang tidak mengasihi Firman Allah, tidak akan memiliki “sayap penyingkapan” dari kitab Wahyu, sehingga tidak dapat membawa jemaatnya ke tempat “pemeliharaan” di masa padang gurun itu (Wah 12:14). Mereka akan menghadapi masa tidak dapat membeli atau menjual sesuatu, situasi yang sangat menyengsarakan bagi orang-orang modern. Mereka harus menghadapi keadaaan yang sangat sulit namun harus bertahan sampai akhir.

Sementara itu para pemimpin yang memahami wahyu Tuhan akan berbuat sesuatu mempersiapkan lumbung-lumbungnya (Kej 41), seperti ada tertulis:  “tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” (Dan 11:32b). Sehingga pada saat itu, mereka tidak perlu membeli atau menjual sesuatu tetapi dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka dari lumbung-lumbung yang telah dipersiapkan, seperti pada jaman Yusuf berada di Mesir.

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.